BALITODAY.NET – Memang benar jika Bali memiliki banyak lokasi wisata yang selalu menarik untuk dikunjungi. Akan tetapi yang perlu diingat Pulau Dewata juga memiliki banyak budaya dan adat-istiadat masyarakatnya yang berbeda dari kebanyakan wilayah di Indonesia.
Untuk bisa menetap, tidak cukup hanya dengan menyediakan biayanya saja. Dengan keunikan yang dimiliki, tinggal di Bali juga perlu memerhatikan demografi dari para masyarakatnya. Berikut 5 hal yang perlu diperhatikan jika ingin tinggal di Bali yang di rangkum dari IDNtimes dan Kompas Travel (31/7):
- Merasakan suasana nyepi

Berhubung mayoritas masyarakat di Bali memeluk agama Hindu. Akan ada satu hari setiap tahunnya dimana seluruh aktivitas berhenti total untuk satu hari atau biasa disebut dengan perayaan Hari Raya Nyepi.
Masyarakat yang merayakan dilarang untuk bekerja, bepergian, hingga menyalakan api atau lampu. Termasuk, pelayanan bandara yang juga tidak aktif selama perayaan. Bahkan hanya di Bali juga kalian bisa menemukan pecalang atau polisi adat yang berlalu-lalang demi kelancaran.
Baca Juga: Netizen Muslim Indonesia Kebakaran Jenggot Karena Mesut Ozil Unggah Foto Ini
Belum lagi sehari sebelum perayaan akan ada Hari Pengrupukan, dimana masyarakat Bali akan mengrakan patung-patung raksasa berwujud seram alias Ogoh-ogoh.
Dengan itu maka suasana jalan pun akan sepi dan pasti akan terasa aneh sebagai orang yang baru merasakannya.
- Makanan Khas bali

Makanan juga menjadi sorotan penting jika ingin tinggal di Bali. Untuk yang tidak suka pedas bersiap-siaplah, itu karena Bali memiliki banyak kuliner pedas seperti ayam betutu, bebek betutu, nasi jinggo, dan lain sebagainya. Bahkan saking terkenal dengan pedasnya, Pulau Sejuta Wisatawan ini terkenal dengan sambal matahnya.
Tetapi banyak juga makanan non-pedas lain yang lain seperti bubur mengguh, sate plecing, dan makanan pedas lainnya.
- Boreh (Obat Tradisional Bali).

Tidak hanya dalam kuliner, di dunia kesehatan Bali juga mempunyai ciri khasnya tersendiri. Boreh, merupakan nama obat tradisional yang masih tetap eksis sampai sekarang. Obat tradisional ini merupakan obat luar yang mirip lulur.
Bahan dari obat ini adalah jahe, kencur, temulawak, cengkeh, pala, merica, kapulaga, beras dan herbal lainnya. Semua bahan kemudian dihancurkan dengan cara diulek sampai halus.
Setelah halus, boreh siap dioleskan di tubuh yang sakit. Boreh dapat mengobati berbagai penyakit sendi, tulang, dan otot.
Baca Juga: Hanya karena Ingin Bermain Tawon, Istri Jhon Legend Ini Rela Pergi ke Bali
- Subak (Organisasi Pertanian Tradisional Bali).

Indonesia merupakan negara agraris. Banyak masyarakatnya yang menjadi seorang petani. Namun seringkali sistem pertanian amburadul yang mengakibatkan kegagalan panen. Untuk mengantisipasi itu, di Bali terdapat organisasi pertanian yang diakui UNESCO pada tahun 2012 lalu bernama Subak.
Fungsi organisasi ini adalah memanajemen segala aktivitas pertanian anggotanya seperti irigasi, bercocok tanam, perawatan, panen dan banyak lagi. Tugas dalam pengelolaan irigasi dan lainnya dilakukan oleh pekaseh.
Untuk itulah subak di Bali dapat mencegah konflik dan sistem pertanian yang amburadul demi menjaga eksistensi agraris Indonesia. Selain itu subak juga berprinsip Tri Hita Karana yaitu hubungan manusia dengan Tuhan, manusia lain, dan lingkungan.
Masyarakat di Indonesia tentunya sudah diatur oleh hukum yang berlaku melalui undang-undang dasar, undang-undang, dan peraturan daerah. Di Bali setiap Desa Adat atau organisasi terdapat aturan atau hukum yang disepakati oleh masyarakat setempat yaitu Awig-awig.
Baca Juga: Menggelitik! Anies Baswedan Sebut Pelican Crossing Seperti Potong Rambut
Proses penyusunannya pun hampir sama seperti penyusunan undang-undang atau peraturan daerah. Namun harus melalui persetujuan bersama atau mufakat dari semua anggota atau masyarakat desa tersebut.
Awig-awig berisi apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh setiap masyarakat. Jika masyarakat melanggar awig-awig tersebut maka akan dikenai hukum adat berupa kesepekan (pengucilan) atau hukuman lainnya.
Jadi, selama bisa menghormati satu sama lain, tidak perlu takut lagi untuk tinggal di Bali.
Penulis : Ilham Musyafa
Editor: Ilham Musyafa










